Freedom Writers*
Jari-jari patahku menari di tengah malam usang
diiringi nada minor,serak dan parau
apakah yang sedang terjadi ?
tiada yang pernah usai menjadi ...
dan sebelum malam menua
sebelum waktu melindap galau
selalu ada ruang menenun mimpi
Depok, 9 Januari 2009
-indah-
*Diambil dari judul film yang juga menginspirasi coretan ini
Friday, January 9, 2009
Thursday, June 5, 2008
Malam & Siang

Malam kehabisan akal
Ia ingin menjadi siang
Lalu pergi mencuri senja
Menyimpannya pada lampu dan bulan
Bulan,
seperti lampu jalanan
Lampu jalanan,
mengubah malam
sedikit seperti siang
Kelam berangsur tersamar
Titiktitik sinar siang sepanjang jalan
Kerjap genit mata senja
menggoda,
di sepanjang tikungan
(Malam yang bodoh ...)
Hingga tiba fajar
Menelan malam
Malam mati
Tanpa sempat mengakui tangisan
050608
-indah-
Wednesday, April 16, 2008
Fragmen Musim Pancaroba

apa yang di persembahkan malam
untuk musim ini ?
adalah harihari kelam
menuju persimpangan pendirian
dan apabila angin bergerak menurut kata hati
tinggallah ia berhembus kering
sebab kemarin,
telah ia letakkan sebuah mimpi
di sembab hari
apa yang di persembahkan angin
dalam semusim ini ?
hanya pengap yang meluruhkan mimpi
di ujung hari
mematikan fungsi gerak nadi
tinggallah diri berwujud sepi
apa yang di persembahkan alam
untuk sebuah musim pancaroba ?
adalah gerak galau yang meracau
di kematian keteraturan ....
jkt,160408
-indah-
Tuesday, January 29, 2008
Tentang Musim Basah

: untuk ArisAbadi
Aku ingin bercerita tentang musimmusim basah yang pernah singgah. Saat itu hanya ada hujan tanpa henti. Ia turun kian menderas. Menjadi samudra. Lalu sarafsaraf sadar hanyut tak berdaya. Hanya lautan yang semakin pasang. Suara? Tiada. Sebab yang terdengar hanyalah gemuruh ombak sakit jiwa yang melantunkan ayatayat dunia.
Lalu kau berujar tentang Biologi Molekul :
”Aku dan kamu, senyawa...
Satu jiwa.
Sebuah reaksi dari ikatan kovalen.
Sedang hati adalah partikel.
Hingga hanya angstrom yang mampu mengukurnya”
Kemudian...
Kita mengkristal dalam buaian ombak. Semakin padat dan berat. Lalu tenggelam jauh ke dasar samudra. Disana kristal mendarat. Tersimpan...
Kelak jika kemarau tiba. Air surut. Penggalian akan tiba. Disana kristal tersimpan indah. Mengingatkan kita akan musimmusim basah serta ombak sakit jiwa.
290108
-indah-
Menjelang Fajar
Thursday, November 15, 2007
Urban Angel
Thursday, November 1, 2007
Prambanan (Roro Jonggrang)
Wednesday, October 31, 2007
Kesah
: Abimanyu
tubuh meretas bibir malam
pelan mengendap desah
lalu luruh di suatu sudut
"telah ku titipkan jiwaku,
dalam tubuhmu
biar ia beriak mencumbu
saat waktu memenjara tubuh"
Menteng,31 Oktober 2007
-indah-
tubuh meretas bibir malam
pelan mengendap desah
lalu luruh di suatu sudut
"telah ku titipkan jiwaku,
dalam tubuhmu
biar ia beriak mencumbu
saat waktu memenjara tubuh"
Menteng,31 Oktober 2007
-indah-
Friday, August 24, 2007
Musim Luruh
/1/
musim luruh di lembah waktu
meninggalkan satu cerita lusuh
tentang matahari terbenam
dan bulan kesiangan
/2/
kemarin aku mimpi menggigit waktu
hingga waktu gompel, tidak utuh
ternyata itu waktu kamu dalam diriku
yang kini tinggal menunggu luruh
/3/
Menteng, 24 agustus 2007
-indah-
musim luruh di lembah waktu
meninggalkan satu cerita lusuh
tentang matahari terbenam
dan bulan kesiangan
/2/
kemarin aku mimpi menggigit waktu
hingga waktu gompel, tidak utuh
ternyata itu waktu kamu dalam diriku
yang kini tinggal menunggu luruh
/3/
Menteng, 24 agustus 2007
-indah-
Saturday, August 18, 2007
Merdeka
Hanya euforia tak usai tertawa
Tasbihkan seluruh penghayatan
Merdeka ! serunya
Dengan pekikan hingar
Dan hamburan hujan uang
Merdeka! seru mereka
Berkalikali, beratusratus kali
Dibawah gemerlap lampu tujuhbelasan
Lagilagi pekikan menuai uang
Merdeka ? tanya mereka
Di kolongkolong jembatan
Di rumahrumah berhimpitan
Di pengasingan
Dipelosok pedesaan
Merdeka !
Merdeka ?
Oh euforia ...
Merdeka milik siapa ?
Oh euforia...
Jangan tambahkan luka ...
Menteng, 16 agustus 2007
-indah-
Tasbihkan seluruh penghayatan
Merdeka ! serunya
Dengan pekikan hingar
Dan hamburan hujan uang
Merdeka! seru mereka
Berkalikali, beratusratus kali
Dibawah gemerlap lampu tujuhbelasan
Lagilagi pekikan menuai uang
Merdeka ? tanya mereka
Di kolongkolong jembatan
Di rumahrumah berhimpitan
Di pengasingan
Dipelosok pedesaan
Merdeka !
Merdeka ?
Oh euforia ...
Merdeka milik siapa ?
Oh euforia...
Jangan tambahkan luka ...
Menteng, 16 agustus 2007
-indah-
Subscribe to:
Posts (Atom)

